Senin, 16 Agustus 2010

Kisah Jaka Tarub














Asal-Usul
Nama Jaka Tarub terdapat dalam Babad Tanah Jawi, yaitu kumpulan naskah yang berisi sejarah Kesultanan Mataram. Tidak diketahui siapa nama asli Jaka Tarub, ataupun nama asli kedua orang tuanya.
Dikisahkan ada seorang pemuda, sebut saja Jaka Kudus, mengembara karena dimarahi ayahnya (KI Ageng Kudus).Singkat cerita, Dalam pengembaraanya Jaka Kudus menikahi putri Ki Ageng Kembanglampir . Putri itu pun akhirnya meninggal saat melahirkan seorang bayi laki-laki.
Bayi laki-laki yang ditinggal mati ibunya itu, ditemukan seorang pemburu bernama Ki Ageng Selandaka. Si bayi digendong sambil mengejar burung sampai ke desa Tarub. Karena suatu hal, Ki Ageng Selandaka akhirnya meninggalkan bayi tersebut sendirian.
Untunglah, si bayi ditemukan seorang janda, sebut saja Nyai Ageng Tarub, dan dijadikan anak angkat. Oleh penduduk sekitar ia dipanggil dengan nama Jaka Tarub.
Versi lain( Majalah Jayabaya) bahwa Jaka Tarub sesungguhnya adalah putra dari pernikahan Syech Maulana Maghribi Azamat Khan dengan Dewi Rosowulan, adik Sunan Kalijaga.Sang Syech mempunyai garis keturunan(nasab) hingga Nabi saw.Dan agaknya inilah yang mendekati kebenaran.
Dikisahkan ada seorang pemuda, sebut saja Jaka Kudus, mengembara karena dimarahi ayahnya (KI Ageng Kudus).Singkat cerita, Dalam pengembaraanya Jaka Kudus menikahi putri Ki Ageng Kembanglampir . Putri itu pun akhirnya meninggal saat melahirkan seorang bayi laki-laki. 
Bayi laki-laki yang ditinggal mati ibunya itu, ditemukan seorang pemburu bernama Ki Ageng Selandaka. Si bayi digendong sambil mengejar burung sampai ke desa Tarub. Karena suatu hal, Ki Ageng Selandaka akhirnya meninggalkan bayi tersebut sendirian.
Untunglah, si bayi ditemukan seorang janda, sebut saja Nyai Ageng Tarub, dan dijadikan anak angkat. Oleh penduduk sekitar ia dipanggil dengan nama Jaka Tarub.
Joko Tarub suka berburu di hutan lebat yang tidak jauh dari rumahnya. Pada suatu hari, Joko Tarub pergi ke hutan dengan membawa tulup, senjata kesayangannya. Meskipun sudah berkali-kali ibunya melarangnya pergi, Joko Tarub masih saja pergi ke hutan. Hingga matahari hampir tenggelam, Joko Tarub belum juga pulang. Nyai Tarub menanti anaknya yang hanya seorang itu.
Nyai Tarub : (Keluar dari rumah, melihat ke arah hutan sambil melihat ke kiri ke kanan mencari anaknya).
Ruuub Taruuub, kemana saja anak ini. Ruub Taruuub.
Joko Tarub : (Datang dari arah hutan dengan wajah berseriseri).
Buuu, Ibuu ... lihatlah aku membawa seekor kinjeng.
Nyai Tarub : Aduuuuuh, anakku, kemana saja kamu. Sudah berapa kali Ibu peringatkan jangan bermain di hutan lagi, hutan itu angker.kalau kau hilang di sana, siapa yang menemani Ibu.
Tarub : Uuuuh, di sana banyak kupu dan kinjeng besar-besar Bu. Kinjengnya bermacam - macam, lihatlah ada bintik kuning di kepalanya.
Nyai Tarub : Itu bukan kinjeng, itu bang-bang erang kuning.
Joko Tarub : Bagus ya Bu, bang-bang erang kuning ini, di hutan ada yang berwarna merah. Besok aku akan mencari lagi dengan tulup ini.
Nyai Tarub : Hus! Jangan masuk hutan lagi. Ayo pulang hari sudah gelap. 
(Nyai Tarub menarik lengan anaknya, supaya masuk ke rumah.)

Suatu hari ia melanggar larangan ibu angkatnya supaya tidak berburu sampai kawasan Gunung Keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga tempat tujuh bidadari mandi.
Jaka Tarub : Sepertinya aku mendengar suara gadis gadis yang sedang bersenda gurau, dari mana asal suara itu? ( Jaka Tarub berjalan pelan-pelan sambil mengendap ngendap di balik rerumpunan pohon di tepian sungai) Oooooh …. Itu rupanya mereka …..Wowwww … mereka bidadari dari kahyangan, cantik – cantik semua mereka. Nah itu selendang-selendang mereka, aku akan mengambil dan menyembunyikannya. ( Lalu Jaka Tarub mengambil salah satu selendang dari bidadari-bidadari itu). 
Ketika acara mandi selesai, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu orang bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang.Bidadari itu bernama Dewi Nawangwulan.
Nawangwulan : Ya Tuhan….. bagaimana ini ……dimana selendangku ….. aku tak dapat pulang tanpa selendang itu. Kakak…… tunggu aku, Bantu aku mencari selendangku. 
6 bidadari : Maaf adinda ….. kami tak dapat membantumu, waktu kita sudah habis, jika sampai kita terlambat sampai kahyangan ibunda Ratu akan marah besar. Selamat tinggal adik ………….. maafkan kami….
( Ke-enam bidadari itu terbang kembali ke kahyangan meninggalkan Nawangwulan sendirian)
Nawangwulan : Tolong ….. tolong …….. tolong aku ……..aku sebatangkara di sini…. Tolong aku….. aku berjanji…. Jika yang menolongku perempuan aku akan menjadikannya sebagai saudaraku dan jika yang menolong laki – laki akan aku jadikan suamiku. ( sambil menangis tersedu-sedu di dekat bebatuan )
Jaka Tarub : Hai putri….Kenapa kamu menangis, apa yang terjadi padamu? (pura-pura tidak tahu dengan apa yang telah terjadi)
Nawang wulan : Selendangku hilang tuan…. Aku sendirian ditinggal kakak-kakakku….. Tanpa selendang itu aku tak bisa terbang ke langit.
Jaka Tarub : Sudah ….. jangan menangis lagi, aku akan menolongmu, kamu bisa tinggal dirumahku. Kenalkan namaku Jaka Tarub, kalau boleh tahu siapa namamu?
Nawangwulan : Namaku Nawangwulan, aku punya 6 saudara, Aku putri dari Raja Langit, ayahku bernama Maudara. Baiklah Jaka aku bersedia ikut pulang denganmu dan aku akan menepati janjiku bahwa aku akan bersedia menjadi istri bagi yang telah menolongku
Akhirnya Keduanya akhirnya menikah dan mendapatkan seorang putri bernama Dewi Nawangsih. Selama hidup berumah tangga, Nawangwulan selalu memakai kesaktiannya. Sebutir beras bisa dimasaknya menjadi sebakul nasi. Suatu hari nawang wulan harus pergi ke sungai untuk mencuci pakaian dan Jaka Tarub bersama putrinya di rumah.
Nawangwulan : Kakangmas….. aku harus segera mencuci ke sungai, cucianku banyak, aku takut kesiangan, bisakah kakang Tarub menjaga Nawangsih dan menunggu nasi sampai matang?
Jaka Tarub : Baiklah istriku, pergilah dan segera kembali ya….
Nawangwulan : Iya Kakang, tapi ada satu pesan yang harus kakang taati, jangan sekali-kali membuka tutup sebelum nasi matang.
Jaka Tarub : Iya Nawangwulan… Kakang Jaka akan mematuhinya.
Nawangsih : Oeeeee…..oeeeeeeeeeeeeeeeee….. (sambil menangis)
Jaka Tarub : Tunggu sebentar nak ….. nasinya belum matang. Sabar ya …..
Nawangsih : (tetap menangis) Oeeeeeeeee……Oeeeeeeee
Jaka Tarub tak tega melihat putrinya menangis kelaparan. Dia lupa dengan pesan istrinya dan ia membuka penutup penanak nasi itu. Namun Jaka Tarub terkejut dengan apa yang ada dihadapannya.
Jaka Tarub : Astaga ….. sebutir beras ? Istriku menanak nasi hanya dengan sebutir beras ? Benar saja persediaan padi kami seolah tak berkurang kami makan berbulan-bulan. Ternyata istriku punya kesaktian.
Nawangwulan : Kakang Jaka ….. aku kembali ……lho anak kita kok menangis kenapa kakang ? Apa nasi belum matang juga? (Sambil membuka penutup penanak nasi) 
Nawangwulan terkejut melihat butiran beras yang belum berubah menjadi nasi. Nawangwulan tahu kalau suaminya telah melanggar janjinya untuk tdak membuka penutup penanak nasi itu. 
Nawangwulan : (sambil menangis) Kakang …. Kenapa kamu langgar janjimu untuk tidak membuka nasi itu sebelum matang? Karena perbuatan Kakang Jaka semua kesaktianku hilang, aku tak bisa apa – apa sekarang…..
Jaka Tarub : Maafkan aku Nawangwulan, tadi anak kita menangis karena lapar dan minta makan, aku tak tega melihatnya dan aku tak sabar menunggu nasi sampai matang. Aku tak sengaja melakukannya. Maafkan Kakang ya …!
Nawangwulan : Baiklah Kakang Jaka …… 
Sejak saat itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.Tangannya menjadi kasar karena harus menumbuk padi setiap hari. Maka, persediaan beras menjadi cepat habis. Ketika beras tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendang pusakanya tersembunyi di dalam lumbung. Nawangwulan pun marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut. 
Nawangwulan : Kakang ….. kakang Jaka ……………..(sambil marah)
Jaka Tarub : Ada apa Nawangwulan …..?
Nawangwulan : Ternyata kakang Jakalah orang yang mencuri selendang pusakaku kala itu. Kenapa Kakang Jaka tak berterus terang padaku, kenapa Kakang Jaka tega melakukan itu padaku ?!
Jaka Tarub : Kakang mencintaimu Nawangwulan …………..
Nawangwulan : Karena selendang pusakaku telah ketemu, Aku harus kembali ke kahyangan Kakang …. Maafkan aku… aku tak bisa mendampingimu lagi. Jaga anak kita kakang ……. Selamat tinggal…..!!!!
Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya demi bayi Nawangsih ia rela turun ke bumi untuk menyusui saja. 
Semenak perpisahan mereka, derita demi derita pun kemudian datang mendera. Tidak hanya pada diri Jaka tarub dan putrinya Nawang Asih, tetapi juga pada Nawang Wulan di Istana Langit. Puncaknya adalah ketika Istana Langit yang didiami oleh keluarga Nawang Wulan diserbu oleh segerombolan jin jahat pimpinan Bintara yang sudah lama ingin mempersunting tidak hanya Nawang WUlan tetapi juga ke 6 saudaranya yang lain. Keinginan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh ke 7 bidadari maupun orangtua mereka.
Akibatnya fatal ! Pertempuran antara jin pun tak dapat lagi dihindari. Istana Langit berhasil dikuasai oleh Bintara setelah lebih dulu menaklukan Maudara. Raja dari ayah ke 7 bidadari yang kemudian jatuh terhempas ke bumi, persis ke permukaan telaga tempat dimana Jaka tarub tengah meratapi nasib malangnya.
Mantu dan mertua pun saling berbagi cerita. Antara lain, Nawang Wulan dapat turun kembali ke bumi dan hidup sebagai manusia biasa, jika Jaka tarub mampu menebus kesalahannya dulu. Mencuri selendang Nawang Wulan. Yakni, menyelamatkan Nawang Wulan dan ke 6 saudaranya yang lain dari kedzaliman serta angkara murka jin jahat Bintara.
Dan untuk itu Jaka Tarub harus terbang ke Istana Langit. Siap berkorban nyawa demi hasrat yang kuat dan tulus untuk kembali menyatukan keluarganya dalam kehidupan yang tenang dan damai.
Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.
Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.
Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.
Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.
Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

0 komentar:

Poskan Komentar

Thanks for read's. .and Please comment this post, :-)